This is default featured slide 1 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. Selanjutnya »

This is default featured slide 2 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. Selanjutnya »

This is default featured slide 3 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. Selanjutnya »

This is default featured slide 4 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. Selanjutnya »

This is default featured slide 5 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. Selanjutnya »

 

Lubang Kehidupan

Lubang Kehidupan

Dua anak kecil, kakak adik, tampak sibuk di sebuah pojok pekarangan rumah. Salah satu dari mereka terlihat menelungkup seperti mengambil sesuatu dari balik lubang kecil. Sementara yang satunya lagi begitu serius memperhatikan sang kakak. Sambil sesekali ikut melongok ke arah lubang, tangan kanannya tetap erat mencekal ranting kecil.

“Dapat, Kak?” ujar sang adik menampakkan wajah penasaran.

“Belum, Dik. Lubangnya dalam sekali!” jawab sang kakak yang masih ingin mencoba merogohkan tangannya lebih dalam ke pangkal lubang.

Rupanya, dua anak itu sedang berusaha mengambil sebuah bola pimpong yang masuk ke lubang. Tibalah giliran sang adik mengorek-ngorek lubang dengan rantingnya. Ia berharap, bola pimpong bisa tersangkut di ujung ranting dan tercungkil keluar lubang. Tapi, selalu saja ia gagal.

Di tengah kebingungan itu, seorang ibu menghampiri mereka. Ia melongok-longok mencari tahu apa yang sedang dilakukan dua anaknya dengan sebuah lubang. Tak lama kemudian, sang ibu pun mengangguk pelan.

“Belum berhasil, Nak?” tanya sang ibu sambil memberikan isyarat kehadirannya.

“Belum, Bu. Lubangnya dalam sekali!” ujar kedua bocah itu memperlihatkan keputusasaan.

“Nak,” ujar sang ibu sambil memegang dua pundak anak-anaknya. “Coba kau isikan air ke lubang. Insya Allah, lubang akan memberikan kalian bola!”

***

Mencari solusi dalam problematika hidup mungkin tak ubahnya dengan upaya mengeluarkan sesuatu yang kita inginkan dari dalam lubang yang dalam dan gelap. Butuh cara bijaksana agar yang kita inginkan bisa kita dapatkan dengan mudah.

Sayangnya, tak semua kita mampu bijaksana menyikapi lubang problematika hidup tersebut. Tak banyak yang memahami bahwa mencari solusi dari masalah tidak melulu dengan upaya ingin mendapatkan sesuatu. Tapi justru dengan semangat memberi. Dari memberi itulah, ia mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Tepat sekali apa yang diucapkan sang ibu kepada dua anaknya, “Penuhi lubang dengan air, ia akan memberimu bola!” (muhammadnuh@eramuslim.com)

KEUTAMAAN SIFAT TAWADHU’

KEUTAMAAN SIFAT TAWADHU’
Oleh: Agus Halimi *)


“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(QS Al-Furqan,25: 63)

Manusia itu terdiri atas jasmani dan ruhani, yang harus dipenuhi kebutuhannya dan dipelihara stabilitasnya secara seimbang. Kita sering mengisi dan mengasah otak kita dengan ilmu pengetahuan, tapi kita melupakan ruhani kita dengan siraman ruhani (agama), baik aqidah, ibadah, maupun akhlak. Padahal, manusia disebut insan karena ruhaninya, bukan jasmani semata.

Ada faktor yang menyebabkan manusia menolak kebenaran dan bersikap takabur/sombong kepada manusia lain:

Pertama, pengaruh harta kekayaan, tokoh yang ditampilkan Al-Qur-an, diperankan oleh Qarun.
Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa[1138], maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (QS Al-Qashash: 76)

Kedua, pengaruh ilmu pengetahuan, yang diwakili oleh Haman, seorang menristeknya Firaun.

Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (37).  (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”.. (QS Al-Mu’min:36-37)

Ketiga, pengaruh kekuasaan yang ditampilkan Al-Quran dalam sosok Firaun sendiri.

Firaun (seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”.(QS al-Nazi’at: 24)

Itulah gambaran Al-Quran tentang tokoh-tokoh yang memiliki kedudukan yang tinggi dan terhormat di tengah-tengah masyarakatnya, baik lantaran ilmu, kekayaan, dan kekuasaan, tetapi tidak dibarengi dengan bimbingan ruhani yang bersifat keagamaan. Bahkan, mereka cenderung menentang dakwah dan ajaran agama yang dibawa Nabi Musa dan Harun.

Jika kita mencermati penyakit bangsa kita, menurut Hasil Seminar Lemhanas ke-17, maka kita dapat menjumpai salah satunya, adalah bangsa Indonesia cenderung bersikap fragmentasi. Artinya, penghargaan kepada seseorang dilihat dari jabatan, ilmu, atau kekayaannya. Ini jelas-jelas merupakan penyakit yang mengkhawatitrkan dan harus dicarikan obat penawarnya, yaitu menumbuh-suburkan sikap/sifat tawadhu’.

Apa pengertian tawadhu’ itu ?

Di dalam referensi keagamaan, Al-Fudhail ditanya orang tentang arti Tawadhu’i : ”Anda tunduk kepada kebenaran, meskipun kebenaran itu disampaikan anak kecil atau yang tidak pandai.”

Ibnu Mubarak mengatakan, arti tawadhu’ yang paling tinggi adalah: ”menempatkan diri pada posisi yang sejajar dengan orang yang status ekonominya lebih rendah, sehingga tiada lagi kesenjangan antara keduanya. Sebaliknya, menempatkan diri pada posisi yang sejajar dengan orang yang lebih tinggi status ekonominya, sehingga tiada kesenjangan/perbedaan posisi antara keduanya.”:

Kebalikan dari tawadhu’ adalah takabbur yang didefinisikan ulama, ”menolak kebenaran (al-haq) dan memandang rendah orang lain.”
Jadi, orang yang sombong adalah orang yang memandang orang lain lebih buruk/ rendah daripada dirinya.


Ringkasnya, orang yang tawadhu’ adalah orang besar/terhormat yang mampu menempatkan diri  di hadapan orang yang lebih rendah kedudukan atau status ekonominya, sehingga tidak ada jurang pemisah di antara keduanya.

 

Di dalam sebuah hadis, Rasulullah membandingkan antara keduanya sebagai berikut:

”Barang siapa merendah karena Allah satu derajat, maka Allah akan mengangkatnya satu derajat, sehingga menjadikan dirinya  di Iliyyin. Barang siapa menyombongkan diri kepada Allah satu derajat, maka Allah akan merendahkannya hingga direndahkan serendah-rendahnya.”(HR Ibn Majah, Abu Ya’la, Ibn Hibban, dan Hakim).

Keutamaan sikap Tawadhu’ ?
Pada awalnya sifat tawadhu’ ini ditujukan kepada orang yang terhormat, berkedudukan tinggi, dan orang besar, yang dikhawatirkan akan timbul kesombongan; dengan diingatkan oleh seorang bijak:


Rendah hatilah kamu, niscaya kamu seperti bintang yang tampak di permukaan air (berada di bawah), padahal sebenarnya dia berada di tempat yang tinggi/terhormat.

Kalau kita renungkan bahwa orang yang tawadhu’ itu tidak akan rugi dan tidak akan kehilangan apa-apa (nothing to loose). Namun, justru sikap itu akan mengangkat derajatnya setinggi-tingginya dalam pandangan Allah, di samping  terhormat./tinggi di depan manusia.

Abu Nu’aim berkata:
Barangsiapa yang rendah hati karena Allah, maka Dia akan mengangkat derajatnya, padahal  dia sendiri merasa diri kecil/lemah, tetapi terhormat di mata manusia. Sebaliknya, orang yang sombong, maka Allah akan merendahkannya, padahal dirinya merasa besar, sedangkan orang-orang memandangnya(orang yang takabur) rendah, bahkan lebih rendah daripada hewan.”

Kenapa kita harus bertawadhu’?
Pertama, kalau kita sombong dengan harta dan jasa orang tua kita, seorang arif bijaksana menelanjangi diri kita, dengan ungkapan sebagai berikut:

Jika anda bangga( kepadaku)  dengan kudamu, maka keindahan dan keggahan itu milik kudamu, bukan milik anda.
Jika anda berbangga dengan pakaian dan asesorismu, maka keindahan itu milik pakaian dan asesoris anda, bukan milik anda
Dan jika anda berbangga dengan jasa nenek moyangmu, maka jasa dan keutamaan itu milik mereka, bukan milik kita
Jika keutamaan dan keindahan itu bukan bagian dari dirimu, maka anda terlepas dari keindahan/kekegagahan itu

Maksudnya, boleh jadi orang menghargai dan menghormati kita, bukan lantaran hormat atas keindahan diri/kepribadian kita, melainkan karena benda-benda yang ada di sekeliling kita. Bahayanya, begitu benda-benda itu hilang dari kita, maka orang lain tidak lagi menghormati kita. Namun, bila orang hormat kepada kita karena keindahan pribadi kita, maka ada atau tidak ada benda-benda itu di sekeliling kita, maka orang akan tetapi menghormati kita. Kalau pun tidak ada orang yang menghormati kita, Allah pasti akan tetap memuliakan kita, karena keimanan dan akhlak kita. ”Inna akramakum ’ indallah at-qakum.” ”Hargailah orang lain (bersikap tawadhu’lah) kepada orang yang lebih rendah daripada kita, niscaya orang lain akan menghormati kita.

Kedua, kalau kita sombong dengan ilmu, maka di atas orang yang berilmu itu ada Dzat yang Maha Berilmu, yaitu Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam QS Yusuf,10: 79 di bawah ini:


”dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui”

Ketiga, kalau kita sombong dengan kekuasaan, maka kekuasaan itu ada ujung dan akhirnya, paling lambat kalau kita sudah mati. Allah melukiskan bagaimana penyesalan orang yang sombong dengan harta dan kekuasaannya, yang karena itu tidak mau sujud kepada Allah dan bersikap sombong kepada manusia.

 (27).  Wahai kiranya kematian Itulah yang menyelesaikan segala sesuatu,(28).  Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.(29).  telah hilang kekuasaanku daripadaku.”

Sebagai renungan bagi kita, agar kita tetap merendah dan merakyat, tanpa ada pengaruh harta/ilmu, dan kekuasaan yang membuat kita menjadi sombong kepada orang lain, maka mari kita simak hadis qudsi:


 

 

 Rabbul Izzati berfirman dalam Hadis Qudsi:
Aku menyintai 3 perkara, tetapi cinta-Ku kepada 3 perkara lagi lebih kuat:
• Aku menyintai orang fakir yang rendah hati, tapi cinta-Ku lebih kuat kepada orang kaya yang rendah hati.(dia punya sarana untuk berlaku sombong, tetapi ia tetap rendah hati/tawadhu’)

• Aku menyintai orang kaya yang pemurah, tetapi kecintaan-Ku kepada orang miskin yang pemurah ,jauh lebih kuat.
• Aku menyintai orang tua yang taat (kepada-KU), tetapi kecintaan-Ku lebih kuat kepada pemuda yang taat.

Aku membenci 3 perkata, tetapi kebencian-Ku kepada 3 perkara lainnya lebih kuat lagi:
• Aku membenci orang kaya yang sombong, tetapui Aku lebih benci kepada orang miskin yang sombong.
• Aku membenci orang miskin yang bakhil, tetapi kebencian-Ku kepada orang kaya yang bakhil, jauh lebih kuat.
• Aku membenci pemuda yang berbuat maksiat, tetapi kebencian-Ku lebih kuat kepada orang tua yang berbuat maksiat.

Semoga Allah membimbing kita menjadi orang yang rendah hati, pemurah, dan taat kepada Allah, apa pun posisi kita di masyarakat.

Berlari dlm Taubat

Allah menyuruh kita untuk BERJALAN dlm MENCARI RIZKI

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. QS: Al-Mulk 15.

Tapi Allah menyuruh kita untuk BERLARI dlm BERTAUBAT

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya Aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Adz-Dzariyat 50.

KITA KADANG SEBALIKNYA, BERLARI DLM MENCARI RIZKI DAN BERJALAN DLM BERTAUBAT.

12 GOLONGAN ORANG YANG DIDOAKAN MALAIKAT

12 GOLONGAN ORANG YANG DIDOAKAN MALAIKAT


Siapa saja orang-orang yang di doakan Malaikat ?
Mari kita lihat satu persatu dengan harapan kita termasuk salahsatu didalam nya, Aamiin….
12 Golongan Orang Yang Didoakan Malaikat adalah :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.” (HR. Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu Shalat.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)

3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud I/130)

4. Orang-orang yang menyambung shaf pada shalat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaallinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa salam bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang-orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.
Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka,
‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’,
mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan.
Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (HR. Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)


 

 

 

 

 

9. Orang-orang yang berinfak.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’.
Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur.”
Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah”. (HR. Ibnu Hibban dan Ath Thabrani dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.” (HR. Ahmad dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa salam bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang ada di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)
wallahu a’lam bish-showab


Sumber Artikel : Oleh Syaikh Dr. Fadhl Ilahi
“Orang-Orang yang Didoakan Malaikat”
Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

Bergerak Itu Berkah

تحرك فإن “في الحركة بركة” وكثرة الجلوس تقصر العمر

Bergerak Itu Berkah                        Dikutif dari Republika

Ibnul Qoyyim rahimatulullah pernah berkata, ”Suatu keuntungan, kebaikan, kenikmatan, kesempurnaan, semuanya tak akan diperoleh, kecuali dengan merasakan kesulitan.” Menurutnya, semua itu tak bisa dicapai kecuali melewati jembatan keletihan. Semua orang cerdik pandai sepakat bahwa kenikmatan tidak didapati melalui kenikmatan. Dan bahwa orang yang lebih mengutamakan istirahat, kelak akan kehilangan istirahat.

Ia melanjutkan, ”Dan bahwa kebahagiaan dan kenikmatan itu tergantung sejauh mana seseorang melewati kengerian dan memikul beban dalam memperolehnya. Tak ada kebahagiaan bagi orang yang tak memiliki obsesi untuk bahagia. Tak ada kelezatan bagi orang yang tak bersabar memperolehnya. Tak ada kenikmatan bagi orang yang tidak mau berkorban untuk kenikmatan, tidak ada istirahat bagi orang yang tak mau berletih-letih untuk istirahat.”

Maka, berjuang dan perjuangkanlah untuk menggapai apa yang ingin kau capai.Uuntuk meraih apa yang ingin kau raih, maka teruslah bergerak. Bergerak dengan perlahan namun pasti. Bersabar dan terus tegar. “Wajib bagi seseorang yang cerdas untuk berusaha menggapai puncak yang bisa ia capai. Andaikata anak adam bisa membayangkan bahwa ia sanggup ke langit maka anda akan melihat bahwa diamnya ia di bumi adalah perkara yang sangat dibenci,” ucap Ibnu Jauzi.

Bergeraklah…
Alam mengajarkan kita untuk senantiasa bergerak agar tercipta sebuah kesempurnaan sebagaimana fungsinya ia diciptakan. Sebagaimana air, apabila ia terus tergenang dalam sebuah wadah, maka ia akan jauh dari sebuah nilai kebermanfaatan dan kenikmatan, karena menimbulkan beragam jentik-jentik penyakit di dalamnya.

“Menjadi ada adalah karunia, sebab kita tidak dapat mengadakan diri kita sendiri. Tapi menjadi ada saja tidaklah cukup, kita ada karena diperintahkan untuk memiliki makna,” kata Ahmad Zairofi.

Begitulah hakikat sebuah kebermaknaan dalam penciptaan, untuk terus bergerak menghadirkan kebermanfaatan dan perubahan.  Sebagaimana bumi dan matahari yang tak pernah malas untuk bergerak. ia terus berputar pada porosnya sehingga tercipta keseimbangan dalam alam galaksi bima sakti. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya…”(QS.36:38).

Sebagaimana pula dalam sebuah siklus hidrologi, uap air pun terus bergerak. “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya…” (QS.24 : 43).

Bergerak adalah Keberkahan…
Mukmin yang cerdas adalah yang senantiasa mampu mengendalikan diri dan menata dirinya untuk hari esok. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw pada salah satu hadis, bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka kita termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al Hasyr:18).
Bagaimana mungkin kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat jika enggan untuk bergerak?

Maka,
Teruslah bergerak, untuk menghasilkan sebuah kebermaknaan dalam penciptaan.

Redaktur : Heri Ruslan

Sumber : Meylina Hidayati

Menjaga 7 Sunnah

7 SUNNAH RASUL YANG HARUS DIJAGA

Dikutif dari hendriyana.abatasa.co.id

                                             

Cerdasnya orang yang beriman adalah, dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat, yang sekejap untuk hidup yang panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati,tapi mati itulah untuk hidup.
Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu berjumpa de
ngan Allah SWT.

Mati bukanlah cerita dalam akhir hidup,tapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.

Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:

1, Tahajjud

karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.

2, membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari

Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.

3, Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.

4, jaga shalat Dhuha karena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha.

5. jaga sedekah setiap hari.

Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekahsetiap hari.

6 jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya Allah”.

7, amalkan istighfar setiap saat.

Dengan istighfar masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.

Dzikir, kata Arifin Ilham, adalah bukti syukur kita kepada Allah. Bila kita kurang bersyukur, maka kita kurang berdzikir pula, oleh karena itu setiap waktu harus selalu ada penghayatan dalam melaksanakan ibadah dan ibadah ajaran Islam lainnya.

“Dzikir merupakanmakanan rohani yang paling bergizi,” katanya, dan dengan dzikir berbagai kejahatan seperti narkoba, KKN, danlainnya dapat ditangkal sehingga jauhlah umat manusia dari sifat-sifat hewani yang berpangkal pada materialisme dan hedonisme..

Tafsir surat Al-Baqarah: 20

Kajian Tafsir surat Al-Baqarah: 20 bersama KH. Jamalullail, Lc

Referensi: Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Showi dll, dg penambahan dari berbagai sumber

Masjid Al-Hidayah wattaqwa, Ahad 17 Februari 2013 waktu Syuruq

 

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Ayat di atas merupakan akhir perumpamaan dalam surat al-Baqarah tentang orang munafiq. Allah memberi perumpamaan tentang orang munafiq dengan ukuran atau takaran yang pas.

Apa yang dibawa/diajarkan oleh rasul                       الْبَرْقُ

Ajaran rasul adalah penerang tatkala hidup sampai wafat.

hampir berarti nggak يَكَادُ

Ajaran Islam tidak diterima karena banyak hijab/penghalang, yang paling tinggi adalah gengsi. Orang munafiq memiliki sifat yang sama dengan syaithan yaitu gengsi dan dengki.

Mereka beriman dengan landasan kepura-puraan, kalau pura-pura ngikut nggak diperangi, ikut perang dapat ghonimah (harta rampasan perang).

Keduniawian (harta, jabatan dan kesenangan) diburu, tapi untuk urusan ibadah ogah atau malas.

 

Tetap berjalan/ada di situ      مَشَوْا فِيهِ   karena Madinah subur makmur dan demi mendapatkan keamanan serta harta duniawi mereka nggak rela melepas itu semua. Dalam sejarahnya Islam selalu dirongrong oleh orang munafiq seperti Abdullah bin Ubay bin Salul, Abdullah bin Saba, Cristiaan Snouck Hurgronje (Abdul Ghaffar) dll.

كُلَّمَا= acap kali/berkali-kali, setiap dakwah Islam bersinar mereka jalan di situ untuk merusak.

Apabila mereka tertimpa kegelapan/sesuatu yang susah mereka kabur

قَامُوا =                      Rasul dan ajaran Allah tidak dianggap sesuatu yang baik.

Kalau Allah mau, Allah langsung matikan, tapi Allah tunda sampai hari kiamat. Tidak ada munafiq yang tobat karena tidak ada celah dalam hatinya untuk beriman.

Allah menangguhkan siksa terhadap mereka karena memandang kekasih Allah yaitu nabiullah Muhammad.

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. Al-Anfal: 33.

Allahu a”lam bimurodihi

Tafsir surat Al-Baqarah: 19

Kajian Tafsir surat Al-Baqarah: 19 bersama KH. Jamalullail, Lc

Referensi: Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Showi dll, dg penambahan dari berbagai sumber

Masjid Al-Hidayah wattaqwa, Ahad 10 Februari 2013 waktu Syuruq

 

 

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

Allah memberi perumpamaan tentang orang munafiq dalam al-Qur’an dengan

Atau dengan mu’jizat al-Qur’an yang abadi dan ilmiah.

صَيِّب

Hujan adalah rahmat yang harus disyukuri, hujan bikin banjir bukan salah hujan.  Yang dimaksud dengan hujan adalah nabi Muhammad SAW yang mendapat wahyu dari langit seperti turunnya hujan. Sebelum turunnya wahyu didahului oleh kegelapan atau masa jahiliah sama seperti hujan turun didahului oleh langit yang berawan.

Penggambaran alam dalam dakwah

رَعْدٌ(halilintar/gluduk/guntur)=rintangan                 وَبَرْقٌ    (kilat)

Suara-suara yang digambarkan sebagai Guntur manfaatnya untuk menetralisir zat-zat asam oleh matahari, sehingga air menjadi rahmat dan tidak asin.

Seperti turunnya hujan, dakwah nabi dan turunnya al-Qur’an berangsur-angsur atau dalam waktu yang lama.  Bagi yang mensikapi رَعْدٌatauguntur dengan iman adalah rahmat, tapi otang munafiq malah menghindar, takut berlebihan sampai takut mati                        حَذَرَ الْمَوْتِ

menghindar                                        حَذَرَ

Kok hujan/rahmat Allah malah dihindari, karena mereka (orang munafiq) tidak membuka mata dan telinga, padahal mata dan telinga sebagai pipa dan saluran sedangkan hati sebagai resapan yang seharusnya menampung rahmat dan hidayah Allah SWT. Setiap hari ketemu bahkan dablong/ngobrol dengan ulama tapi tidak nyampe (meresap) ke hatinya karena pipanya tertutup.

وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

Maksudnya Allah sangat mengetahui luar dalam orang kafir

Seakan Allah berkata: “emang mau lu apa sih? Ngapain membenci, memperolok, bahkan ingin membunuh nabi, coba ikut nabi (wahyu Allah) pasti dapat rahmat”

Wallahu a’lam bimurodihi!

Tafsir surat Al-Baqarah: 17-18

Kajian Tafsir surat Al-Baqarah: 17-18 bersama KH. Jamalullail, Lc

Referensi: Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Showi dll, dg penambahan dari berbagai sumber

Masjid Al-Hidayah wattaqwa, Ahad 3 Februari 2013 waktu Syuruq

 

 

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لا يُبْصِرُونَ

Allah memberikan gambaran orang munafiq dengan perumpamaan agar orang munafiq diketahui secara danta/gamblang. Perumpamaan pertama kali dalam al-Qur’an adalah tentang orang munafiq.

(benak/fikiran) مثل      لتقريب المعنى الى الاذهان  

sebagai ibroh/pelajaran.

Dhamir tidak kelihatan sesuai dengan kebiasaan munafiq, menyembunyikan kebenaran dibalik perkataan dan kelakuan.

Perumpamaan mereka seperti orang yang berusaha menyalakan api.

minta api nyala/cari sinar biar terang       استوقد     طلب الوقود

Mereka bertanya kepada rahib dan pendeta tentang kedatangan nabi SAW, para rahib dan pendeta sesuai kitab suci mereka mewartakan akan segera datang seorang nabi terakhir, nabi pilihan.

Mereka takut, Abdullah bin Ubay bin Salul akan diangkat penduduk Yatsrib sebagai raja.

Tatkala Rasululloh datang, فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ

Mereka ingkar dengan kedengkian dan kebencian nabi, kekasih Allah, padahal orang yang benci nabi, dibenci Allah.

Allah lenyapkan cahaya (hati mereka dibutakan) yang benar jadi salah (pandangan mereka dibutakan). Allah biarkan mereka dalam kegelapan-kegelapan.

            ضوء     Bukan                        نور       ,           memantulkan cahaya. Allah hilangkan nuur (objek cahaya) jadi mereka tidak dapat pantulan cahaya, hilang sama sekali tidak tersisa.

Perlakuan buruk      اساءة  / كراهة /   ظلمة الحسد

لا يُبْصِرُونَ mana bisa mereka melihat/mengikuti petunjuk (rasul akhir zaman)                     

Konsep cahaya: mata tidak bisa melihat, bisa melihat karena pantulan cahaya.

Kita tidak tahu kebenaran, kalau tidak dapat pantulan cahaya dari Rasulullah.

Allah SWT secara gamblang telah menjelaskan dalam surat al-Maidah ayat 15,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Al-Maidah: 15

Tidak ada orang munafiq yang kembali/bertaubat.

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَرْجِعُونَ

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). al-Baqarah: 18

Wallahu a’lam bisshowab!

Tafsir QS Al-Baqarah: 14 (almunafiqun)

Kajian Tafsir surat Al-Baqarah: 14 bersama KH. Jamalullail, Lc

Referensi: Tafsir Jalalain, Tafsir Showi, Tafsir Ibnu Katsir dll, dg penambahan dari berbagai sumber

Masjid Al-Hidayah wattaqwa, Ahad 20 Januari 2013 waktu Syuruq

 

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata : “Kami ini telah beriman “, dan apabila mereka telah bersendirian dengan setan-setan mereka, mereka katakan : “Sesungguhnya kami adalah (tetap) bersama kamu, kami ini hanyalah mengolok-.olokkan mereka itu. ” (ayat 14).

Orang Munafiq:  Orang yang menyimpan keburukan di hati mereka (bertentangan antara sifat dzahir & bathin).

Dalam kalimat لَقُوا  laquu terdapat I’lal dan ibdal serta huruf illat1 (huruf yang sakit) yang harus dibuang.

Huruf illat sebagai huruf yang resmi ini menurut pandangan para ahli kaidah i’lal dianggap sebagai huruf yang cacat, sehingga pada deretan huruf hija’iyah . huruf tersebut sementara tidak mendapatkan tempat yang layak sebagsi huruf yang sah, ia seakan akan merupakan huruf yang dianak tirikan bila dibandingkan dengan huruf yang lain. Karena itu suatu saat ia harus digusur atau dipindah. Bahkan jika perlu, ia harus mengalah dibuang, diganti dengan huruf lain . Padahal pada kenyataannya. huruf illat ini mempunyai peranan penting sebagai komponen yang tidak bisa terpisahkan dengan huruf lainnya, karena bahasa Arab tanpa ke tiga huruf illat tersebut tidak mungkin akan berjalan dengan baik dan sempurna.

Untuk pertama kali dalam al-Qur’an Allah SWT memanggil syaitan, berbicara tentang syaithan dan mengutuk syaithan kepada orang-orang munafik di dalam surat al-Baqarah ayat 14.

Allah telah menyebut kata an nifaq dan kata jadiannya di dalam Al Qur’an sebanyak 37 kali dalam surat yang berbeda. Yaitu, di dalam surat ‘Ali Imran, Al Hasyr, At Taubah, Al Ahzab, Al Fath, Al Hadid, Al Anfal, Al Munafiqun, An Nisaa,         Al Ankabut, dan At Tahrim.

Kata an nifaq serta bentuk-bentuk jadiannya diulang-ulang penyebutannya pada sebagian dari surat-surat tersebut.   Hal ini menunjukkan betapa sangat berbahaya orang-orang munafiq itu terhadap mujtama’ (masyarakat) dan Ad Din (agama).

Kalimat                         Syathona bermakna jauh dari kebaikan dan tidak kembali ke jalan yang benar.

Seseorang disebut syaithan karena memiliki dua sifat  syaithan yaitu; suka mengganggu dan suka menjerumuskan orang.

Kalimat  إِنَّا مَعَكُمْadalah jumlah ismiah (kalimat yg menunjukkan isim/subjek) yg menandakan tsubut (tetap) atau orang munafiq sifatnya (kemunafikan) tetap. Dan kalimat آمَنَّا adalah jumlah fi’liah (kalimat yg menunjukkan perbuatan) yg menandakan tajaddud (berubah-ubah) atau orang munafiq imannya (perbuatan) berubah-ubah.

Allah SWT, tidak mengatakan lam  u’min (blm beriman) karena kalau belum beriman suatu saat bisa beriman.

Seorang mu’min akan senantiasa diberi tahu, dihindarkan, dan dijaga dari tipu daya mereka (orang munafiq), Allah memberi hati orang beriman jarak dan filter agar senantiasa terhindar dari tipu daya mereka dengan catatan orang mu’minnya istiqomah dan istimror (kontinyu) dalam keimanan dan ketakwaan.

Dan bagi orang munafiq tempat mereka adalah di kerak neraka sebagaimana Allah firmankan dlm QS An-Nisaa’: 145-146:

إِنَّالْمُنَافِقِينَفِيالدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا (145) إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا [النساء/145، 146]

145. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

146. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan[369] dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

 

Bulletin musholla Baitul Ilmi          Nifaq II            *disarikan  dr berbagai sumber

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata : “Kami ini telah beriman “, dan apabila mereka telah bersendirian dengan setan-setan mereka, mereka katakan : “Sesungguhnya kami adalah (tetap) bersama kamu, kami ini hanyalah mengolok-.olokkan mereka itu. ” (al-Baqarah ayat 14).

Inilah kelanjutan dari perangai munafik bila berhadapan mulutnya manis, bila di belakang lain bicara. Apa sebab jadi begini ? Tidak lain adalah karena kelemahan jiwa , sebab itu takut menghadapi kenyataan.

Kepada orang-orang yang telah beriman mereka mengaku telah beriman, dan bila bertemu dengan teman-teman mereka yang sama-sama jadi setan, atau ketua-ketua yang telah berpikiran sebagai setan, mereka takut didakwa, mengapa telah berubah pendirian.

Mengapa telah ikut-ikut pula seperjalanan dengan orang-orang yang telah sesat itu ? Mudah saja mereka menjawab bahwa pendirian mereka tetap, tidak berubah.

Mereka itu mencampuri orang­ orang yang telah menjadi pengikut Muhammad s.a.w itu hanya siasat saja, sebagai olok-olok. Namun pendirian yang asli, mempertahankan yang lama tidaklah mau mereka merubahnya.

Karena kalau tidak pandai kita menyesuaikan diri tentu akhirnya kita tidak dapat mengetahui rahasia lawan kita. Beginilah kira-kira susun kata mereka menjawab jika setan-setan mereka bertanya. Sedang di segala jaman jawaban yang seperti ini, dari orang yang jiwanya telah pecah, hampir sama saja, hanya susunannya berbeda sedikit-sedikit.

Mereka merasa telah menang, sebab dapat memperolok-olokkan orang yang beriman. Padahal bagaimana yang sebenarnya ?

MUNAFIK, MAKNA DAN CIRI-CIRINYA

Sahabat Hudzaifah r.a pernah berkata: “Orang-orang munafik sekarang lebih jahat (berbahaya) daripada orang munafik pada masa Rasulullah saw.”

Ditanyakan kepadanya: “Mengapa demikian? ” Hudzaifah menjawab: “Sesungguhnya pada masa Rasulullah saw mereka menyembunyikan kenifakannya, sedangkan sekarang mereka berani menampakkannya.” (Diriwayatkan oleh Al Farayabi tentang sifat an nifaq (51-51), dengan isnad shahih)

Pernyataan sahabat Hudzaifah r.a itu diucapkannya pada 14 abad yang lampau. Jika demikian, bagaimana dengan orang-orang munafik pada abad ini?

A. Makna Nifaq
Secara bahasa, nifaq berarti lobang tempat keluarnya yarbu ( binatang sejenis tikus ) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan pula, kata nifaq berasal dari kata yang berarti lobang bawah tanah tempat bersembunyi. ( al-Mu’jamul wasith 2/942 ).

Adapun nifaq menurut syara’ artinya : menampakkan Islam dan kebaikan, tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan.

B. Jenis Nifaq
Nifaq terbagi menjadi dua jenis: nifaq I’tiqodiy dan nifaq amaliy.

1. Nifaq I’tiqodiy (keyakinan), adalah nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan ke-Islaman, tetapi dalam hatinya tersimpan kekufuran dan kebencian terhadap Islam.

Jenis nifaq ini menyebabkan pelakunya murtad, keluar dari agama &di akhirat kelak ia akan berada dalam kerak Neraka. Allah berfirman :”Sesungguhnya orang-orang munafik berada dalam kerak Neraka.” (QS. An-Nisa : 145)

Allah swt mensifati orang-orang munafik dengan banyak sifat, diantaranya kekufuran, tiada iman, mengolok-olok dan mencaci maki agama. Allah swt berfirman :”Dan di antara manusia ada yang mengatakan ; Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir’ padahal mereka tidak beriman.” (Al-Baqoroh : 8)

Nifaq jenis ini ada empat macam :
1. Mendustakan Rasulullah saw atau mendustakan sebagian dari apa yg beliau bawa.
2. Membenci Rasulullah saw atau membenci sebagian apa yang beliau bawa.
3. Merasa gembira dengan kemunduran agama Rasulullah saw.
4. Tidak senang dengan kemenangan agama Rasulullah saw.

2. Nifaq ‘amaliy (perbuatan), yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati.
Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, namun merupakan washilah (perantara) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam keadaan iman dan nifaq, dan jika perbuatan nifaqnya lebih banyak maka hal itu bisa menjadi sebab terjerumusnya dia ke dalam nifaq sesungguhnya.

Hal ini berdasarkan hadits Nabi saw :”Ada empat hal, yg jika berada pada diri seseorang maka ia menjadi seorang munafiq sesungguhnya, dan jika seseorang memiliki kebiasaan salah satu dari padanya, maka berarti ia memiliki satu kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya ; bila dipercaya ia berkhianat, dan jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia ingkari, dan jika bertengkar ia berucap kotor.” (Muttafaqun alaihi)

Ibnu abi Mulaikah berkata :”Aku bertemu dengan 30 sahabat Rasulullah saw, mereka semua tahu kalau-kalau ada nifaq dalam dirinya.”
Berikut ini ketiga puluh karakter orang-orang munafiq tersebut :
Karakter Ke-1 : Dusta
Karakter Ke-2 : Khianat
Karakter Ke-3 : Fujur dalam Pertikaian
Karakter Ke-4 : Ingkar Janji
Karakter Ke-5 : Malas Beribadah
Karakter Ke-6 : Riya
Karakter Ke-7 : Sedikit Berdzikir
Karakter Ke-8 : Mempercepat Shalat
Karakter Ke-9 : Mencela Orang-Orang yang Taat dan Sholeh
Karakter Ke-10 : Memperolok Al Qur’an, As Sunnah, dan Rasulullah saw
Karakter Ke-11 : Bersumpah Palsu
Karakter Ke-12 : Enggan Berinfaq
Karakter Ke-13 : Tidak Memiliki Kepedulian terhadap Nasib Kaum Muslimin
Karakter Ke-14 : Suka Menyebakan Kabar Dusta
Karakter Ke-15 : Mengingkari Takdir
Karakter Ke-16 : Mencaci maki Kehormatan Orang-Orang Sholeh
Karakter Ke-17 : Sering Meninggalkan Shalat Berjamaah
Karakter Ke-18 : Membuat Kerusakan di Muka Bumi dengan Dalih Mengadakan Perbaikan
Karakter Ke-19 : Tidak Ada Kesesuaian antara Zhahir dengan Batin
Karakter Ke-20 : Takut Terhadap Kejadian Apa pun
Karakter Ke-21 : Berudzur dengan Dalih Dusta
Karakter Ke-22 : Menyuruh Kemungkaran dan Mencegah Kema’rufan
Karakter Ke-23 : Bakhil
Karakter Ke-24 : Lupa Kepada Allah SWT
Karakter Ke-25 : Mendustakan janji Allah dan Rasul-Nya
Karakter Ke-26 : Lebih Memperhatikan Zhahir, Mengabaikan Batin
Karakter Ke-27 : Sombong dalam Berbicara
Karakter Ke-28 : Tidak Memahami Ad Din
Karakter Ke-29 : Bersembunyi dari Manusia dan Menantang Allah dengan Dosa
Karakter Ke-30 : Senang dg Musibah yang Menimpa Orang-Orang Beriman dan Dengki Terhadap Kebahagiaan Mereka

3. Perbedaan antara nifak besar ( nifaq I’tiqodiy ) & kecil ( nifaq ‘amaliy )
• Nifaq besar adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal keyakinan, sedangkan nifaq kecil perbedaan dalam amal perbuatan.
• Nifaq besar tidak terjadi dari seorang mukmin, sedangkan nifaq kecil mungkin terjadi dari seorang mukmin.
• Pada umumnya, pelaku nifaq besar tidak bertobat, dan andaikan bertobat, para ulama berbeda pendapat dalam masalah diterima atau tidak tobatnya. Adapun nifaq kecil, pelakunya umumnya bertobat.
Demikianlah semoga kita dihindarkan oleh Allah dari nifaq, dan semoga kita dijadikan orang-orang yang beriman dengan sesungguhnya, amin. Wallahu ‘alam bisshowab!